Jumat, 10 Juli 2009

Cara Mengajar Kimia Yang Menyenangkan

Pelajaran kimia dianggap sebagian besar siswa menjadi pelajaran yang sulit dipahami dan dimengerti.Permasalahan pembelajaran kimia yang sampai saat ini belum mendapat pemecahan secara tuntas adalah adanya anggapan pada diri siswa bahwa pelajaran ini sulit dipahami dan dimengerti. Ini menyebabkan pelajaran kimia tidak disukai, bahkan sebagian siswa bersikap antipati dan menganggapnya sebagai momok.

Mengapa itu bisa terjadi? Sukiman,G
uru kimia SMA Negeri 1 Amuntai Kalimantan Selatan menemukan setidaknya dua hal yang menjadi penyebab.
  • Pertama, metode pembelajaran kimia yang diterapkan guru bersifat monoton dan kurang variasi. Ini menjadikan belajar kimia kurang bermakna dan tidak menarik bagi siswa.
  • Kedua, sebagian besar siswa terbawa opini yang terbentuk di tengah-tengah masyarakat bahwa pelajaran kimia itu sulit. Hal itu semakin memperkuat anggaan siswa terhadap pelajaran kimia sebagai cabang ilmu yang sulit dipelajari dan dipahami.

Permasalahan ini mendorong dia membuat metode pembelajaran kimia yang menyenangkan, mengasyikkan, dan mencerdaskan. Metode tersebut diberi nama model pembelajaran kimia rekreasi. Metode ini mengedepankan usaha menciptakan situasi belajar kimia bernuansa gembira yang dapat membuat siswa merasa asyik, dilakukan di luar maupun di dalam kelas.

Dalam metode ini, dia menerapkan lima macam pembelajaran kimia rekreasi. Yakni,
  1. belajar kimia sambil bernyanyi
  2. puitisisasi kimia
  3. kuis kimia
  4. karyawisata atau berkunjung ke objek wisata
  5. Menghapal delapan golongan unsur dengan kalimat jenaka (jembatan keledai).

Bernyanyi sambil belajar kimia, contohnya. Metode ini menggunakan pendekatan lagu atau nyanyian. Konsep dan sub konsep yang ada pada suatu pokok bahasan dirumuskan dalam bentuk bait lagu yang iramanya diambil dari lagu-lagu yang sudah dikenal siswa. Misalnya, siswa kelas I yang biasanya kesulitan memahami konsep ikatan ion dan proses terjadinya ion, ditanamkan lewat lagu Angin Mammiri.

Demikian pula dengan puitisasi kimia. Ini menggunakan pendekatan keindahan puisi. Siswa diberi tugas membaca pokok bahasan yang sedang dipelajari kemudian guru merumuskan konsep yang akan ditanamkan dalam bentuk puisi. Pada saat pembelajaran, siswa diminta membaca puisi di depan kelas. Setelah itu, guru menjelaskan makna puisi. ''Berdasarkan pengalaman penerapan model pembelajaran ini, antusias siswa meningkat, di samping dapat menggali dan menyalurkan bakat siswa di bidang seni sastra,'' tuturnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar