Selasa, 14 Juli 2009

guru kimia saya pernah berkata “Kamu nggak bakalan keterima UMPTN”!!!

Saat saya masih duduk di bangku SMU, guru kimia saya pernah berkata “Kamu nggak bakalan keterima UMPTN”. Kata-kata itu diucapkannya setelah saya gagal mengerjakan soal kimia di depan kelas. Tentu saja, saya malu pada teman-teman waktu itu. Saya menyadari, saya memang tidak terlalu pintar dalam pelajaran kimia, tapi ketika mendengar guru berkata begitu, tetap saja membuat sakit hati, saya merasa dilecehkan.

Setelah pulang sekolah, kata-kata itu terus terngiang-ngiang dalam pikiran. Saya lempar tas ransel dan langsung merebahkan tubuh ke tempat tidur. Ingin istirahat tapi mata tak mau terpejam. Hanya menerawang di langit-langit kamar. Saya tarik nafas panjang-panjang, kemudian dalam hati saya bertekad “Saya harus bisa buktikan nanti lulus UMPTN dan masuk perguruan tinggi negeri”.

Dan, perjuangan itu dimulai...

Kata-kata guru saya seolah menjadi cambuk penyemangat dalam belajar. Setiap hari berkutat dengan soal-soal UMPTN yang rumit itu. Kadang sering putus asa juga ketika tidak bisa menyelesaikan soal-soal di hadapan saya. Tapi, bagaimanapun juga, kendala-kendala itu harus bisa teratasi, berjuang terus untuk bisa menjawab soal, biasanya saya berlatih dengan bahan soal tahun-tahun sebelumnya. Kalau memang sudah mentok, melirik kunci jawaban menjadi alternatif terakhir.

Begitulah saya melewati hari-hari melelahkan itu....

Berawal dari kata-kata yang menyakitkan itu, saya bangkit dan berjuang. Saya percaya bahwa ketika berbuat maksimal, hasil yang akan diperolah pasti akan sebanding dengan usaha tadi. Dan, benar juga, pada akhirnya saya bisa mewujudkan salah satu impian saya, bisa masuk perguruan tinggi negeri dengan mengambil jurusan yang lumayan favorit, Ilmu Komunikasi.

Kata-kata..ya, berawal dari kata-kata...

Kata-kata memang ajaib. Dia bisa melemahkan dan juga bisa menguatkan, tergantung dari cara kita mensikapinya. Andai saja saya mensikapi kata-kata guru kimia saya itu dengan negatif, tentu saja hanya menyakitkan dan membuat kesal saya. Tapi ketika bisa merenungi dan mengubahnya menjadi energi positif, alhamdulillah, ternyata bisa menjadi spirit, penggugah dan penyemangat belajar sehingga pada akhirnya bisa menikmati kuliah di kampus negeri.

***
Kadang kita kerap masih ingat dengan kata-kata teman atau siapapun yang begitu menyakitkan kita. Bahkan sampai bertahun-tahun lamanya kata-kata itu tidak bisa lepas dari ingatan. Untuk itulah, kita harus mesti berhati-hati dengan kata-kata yang kita keluarkan, baik secara lisan maupun tulisan. Hanya ada dua pilihan, kata-kata yang baik atau yang buruk.

Saya sendiri pernah mendapat kata-kata yang cukup bagus dari seorang teman kuliah, dia pernah menulis di buku harian saya, bunyinya begini;

Sobat...
Dunia ini hanya digerakkan oleh gagasan beberapa orang saja dan aku berharap, kamu adalah salah satunya.

Dari kata-kata itu, kemudian bisa menginspirasi saya terjun serius ke dunia kepenulisan dan perbukuan. Kata-kata itu memang singkat dan sederhana, tapi maknanya begitu dalam bagi saya. Bisa menjadi penyemangat untuk berkarya dan berkarya lagi.

Untuk itulah, berhati-hati dengan kata-kata itu perlu karena dia begitu ajaib, bisa menyenangkan dan menyakitkan. Kalau dihadapkan pada pilihan sadar, tentu kita akan menggunakan kata-kata itu untuk memberikan semangat orang, memberikan pencerahan bahkan bisa menjadikannya semakin dekat dengan Tuhan. Semoga saja begitu, pertanyaannya sekarang, sudahkah kita melakukannya...?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar