Minggu, 05 Juli 2009

Polivinilclorida (PVC).

Polivinil adalah salah satu jenis plastik yang dibuat secara termoplastic. Salah satu contohnya yang paling banyak digunakan adalah Polivinilclorida (PVC). Sifat PVC adalah keras, kaku, dan sedikit rapuh, dapat melunak pada pemanasan 80oC tanpa titik lebir yang tajam. Jika suhu diturunkan, maka PVC akan menjadi rapuh dan jika massanya dinaikkan maka sifat liatnya semakin besar. PVC murni sangat stabil terhdap minyak tumbuhan, minyak mineral, alkohol, dan senyawa anorganik. Bahan yang bersifat basa kuat dan bersifat mengoksidasi dapat mempengaruhi PVC.

PVC dihasilkan dari dua jenis bahan baku utama, yaitu minyak bumi dan garam dapur (NaCl). Bahan baku minyak bumi diolah melalui proses pemecahan molekul yang disebut cracking menjadi berbagai macam zat termasuk etilena. Garam dapur diolah melalui proses elektrolisa menjadi natrium hidroksida dan gas klor. Etilena direakikan dengan gas klor menghasilkan etilena diklorida. Proses cracking atau pemecahan molekul etilen diklorida tersebut menghasilkan suatu gas vinil klorida (CHCl=CH2) dan asam klorida (HCl). Melalui proses polimerisasi (penggabungan molekul monomer) dihasilkan molekul besar dengan rantai panjang (polimer) polivinil klorida yang berupa bubuk halus berwarna putih. Polimerisasi:

Polimer PVC yang mengandung gugus klor memiliki ketahanan terhadap oksidai oleh udara, tahan lama, tetapi mudah rusak pada suhu yang rendah. Resin PVC tersebut masih memerlukan langkah-langkah untuk diubah menjadi berbagai produk akhir yang bermanfaat. Biasanya polivinil klorida banyak digunakan untuk pipa, isolator kabel, botol plastik, plastik pembungkus, dan lain-lain.

Pengolahan PVC menjadi produk akhir adalah dengan compounding (pembuatan adonan). Adonan (compound) tersebut adalah resin PVC yang telah dicampur dengan bahan-bahan tambahan dengan fungsi tertentu, sehingga dapat untuk diproses menjadi produk dengan sifat-sifat yang diinginkan. Sifat-sifat yang diinginkan meliputi warna, kefleksibelan bahan, ketahanan terhadap sinar ultra violet, kekuatan mekanik transparansi, dan lain-lain sesuai dengan produk apa yang akan dibuat.

Untuk mempermudah pemprosesan dan menambah sifat elastis yang cocok untuk berbagai aplikasi maka perlu ditambahakan plasticizer seperti trikrestil posfat atau dibutil ptalat. Juga diperlukan stabilizer atau zat penstabil sehingga dimungkinkan pemprosesan PVC tanpa kandungan plasticizer.

Pada pembuatan pipa dan kabel, PVC dibuat dengan diekstruksi atau dipanaskan dan dialirkan melalui suatu cetakan sehingga dihasilkan produk memanjang. Pada pembuatan botol menggunakan teknik cetak tiup (blow molding), lelehan PVC ditiup ke dalam suatu cetakan membentuk produk botol.

Contoh polivinil lain yang dapat digunakan sebagai pengemas adalah polivinil denklorid (PVDC). Dibuat dari polimerisasi vinildenklorid yang caranya hampir sama pada polimerisasi vinilklorid. Untuk tujuan teknis umunya dilakukan polimerisasi campur dari vinildenklorid dengan senyawa vinil lainnya. Contoh produknya adalah kapsul berkerut yang terdiri dari polivinildenklorid, dapat melunak pada suhu rendah atau lembab dan dapat ditarik melalui sumbat dan penutup, kemudian dikeringkan dan menjadi keras serta kedap gas dan air.

Senyawa polivinil lainnya polivinil asetat (PVA) yaitu polimer karet sintetis. PVA dibuat dari monomernya, vinil asetat, yang hidrolisis dari sebagian senyawa ini menghasilkan polivinil alkohol (PVOH). PVA dijual dalam bentuk emulsi dalam air sebagai bahan perekat untuk bahan berpori seperti kayu. PVA juga dapat digunakan untuk melindungi keju dari jamur dan kelembaban. PVA bereaksi perlahan dengan basa dan membentuk asam asetat sebagai hasil hidrolisis.

PVC dan Lingkungan Hidup

Telah menjadi mitos bahwa khususnya pembakaran sampah PVC memberikan kontribusi yang besar terhadap terjadinya dioxin. Dioxin dapat dihasilkan dari pembakaran bahan-bahan organoklorin, yang sebenarnya banyak terdapat di alam (dedaunan, pepohonan). Suatu penelitian yang dilakukan oleh New York Energy Research and Development Authority pada tahun 1987 menyimpulkan bahwa ada atau tidaknya sampah PVC tidak berpengaruh terhadap banyaknya dioxin yang dihasilkan dalam proses insinerasi/pembakaran sampah. Kontribusi terbesar bagi terjadinya dioxin adalah kebakaran hutan, hal yang justru tidak banyak diekspos.

Kandungan klor (Cl) dalam PVC diketahui memberikan sifat-sifat yang unik bagi bahan ini. Tidak seperti umumnya bahan plastik yang merupakan 100% turunan dari minyak bumi, sekitar 50% berat PVC adalah dari komponen klor-nya, yang menjadikannya sebagai bahan plastik yang paling sedikit mengkonsumsi minyak bumi dalam proses pembuatannya. Relatif rendahnya komponen minyak bumi dalam PVC menjadikannya secara ekonomis lebih tahan terhadap krisis minyak bumi yang akan terjadi di masa datang serta menjadikannya sebagai salah satu bahan yang paling ramah lingkungan.

Walaupun PVC merupakan bahan plastik dengan volume pemakaian kedua terbesar di dunia, sampah padat di negara-negara maju yang paling banyak menggunakan PVC-pun hanya mengandung 0,5% PVC. Hal ini dikarenakan volume pemakaian terbesar PVC adalah untuk aplikasi-aplikasi berumur panjang, seperti pipa dan kabel. Sampah PVC juga dapat diolah secara konvensional, seperti daur-ulang, ditanam dan dibakar dalam insinerator (termasuk pembakaran untuk menghasilkan energi).

PVC juga dianggap menguntungkan untuk aplikasi sebagai pembungkus (packaging). Suatu studi pada tahun 1992 tentang pengkajian daur-hidup berbagai pembungkus/wadah dari gelas, kertas kardus, kertas serta berbagai jenis bahan plastik termasuk PVC menyimpulkan bahwa PVC ternyata merupakan bahan yang memerlukan energi produksi terendah, emisi karbon dioksida terendah, serta konsumsi bahan bakar dan bahan baku terendah diantara bahan plastik lainnya. Bahkan sebuah kelompok pecinta lingkungan Norwegia, Bellona, menyimpulkan bahwa pengurangan penggunaan bahan PVC secara umum akan memperburuk kualitas lingkungan hidup.

1 komentar:

  1. thanksya udah share...
    pas dengan apa yang gue butuhkan....

    BalasHapus