Minggu, 04 Oktober 2009

Air Liur Kekelawar Obat Stroke

Air Liur Mujarab

Melihat kelelawar, pasti yang terbayang adalah adegan film horor tentang drakula. Padahal, persamaan di antara mereka hanya karena sama-sama hobi mengisap darah.

Terutama jenis kelelawar vampir yang punya tubuh lebih besar ketimbang jenis kelelawar lain dan memang suka mengisap darah ternak. Makanya, sering dianggap hama oleh para peternak di Benua Amerika (Tengah dan Selatan) juga di beberapa negara Eropa.

Jenis kelelawar yang kemudian jadi inspirasi tokoh horor, Count Dracula, ini sebenarnya terbagi atas tiga jenis. Yakni, Diaemus youngi, Diphylla ecaudata, dan Desmodus rotundus. Dan hanya jenis kelelawar vampir ini yang menyukai darah sebagai makanan pokok. Sedangkan jenis kelelawar lain, dari keluarga (family) lainnya, lebih memilih buah-buahan sebagai makanan pokok mereka. Jadi, ternyata tidak semua jenis kelelawar penyuka darah.

Dari tiga jenis kelelawar vampir tersebut, jenis Desmodus rotundus sajalah yang merupakan musuh para peternak. Walau tubuhnya kecil (rentang sayapnya sekitar 20,3 cm dan tubuhnya sebesar ibu jari orang dewasa), tapi jenis ini suka mengisap darah binatang-binatang ternak yang tentunya punya ukuran tubuh lebih besar. Seperti sapi, babi, kuda, dan ternak lainnya. Sedang dua jenis lainnya lebih memilih mengisap darah burung.

Uniknya, kelelawar vampir ini begitu rakusnya hingga bisa mengisap darah korbannya selama 30 menit nonstop. Dan volume darah yang diisapnya bisa nyaris seberat tubuhnya yang kecil. Makanya begitu selesai berburu, kelelawar vampir akan kelebihan beban dan akhirnya hanya bisa terbang maksimal satu meter di atas tanah. Kalau mau dianalogikan seperti nyamuk yang baru saja mengisap darah kita banyak- banyak, menggendut hingga sulit terbang. Enak banget buat ditepak karena gerakannya tidak lagi lincah.

Sebenarnya, proses pengisapan darah kelelawar vampir tidak sampai membuat korbannya mati. Lagi-lagi seperti kita diisap nyamuk. Tapi, biasanya mamalia bersayap yang hidupnya berkomunitas ini sering mengidap rabies. Akibatnya, ketika berburu, mereka juga suka menyebarkan penyakit yang dikenal dengan nama “anjing gila” tersebut. Maka, korbannya pun tertular hingga akhirnya bisa mengakibatkan kematian. Proses inilah yang dibenci para peternak hingga bisa merugikan mereka.

“Saliva” mujarab

Lepas dari kemungkinan menjadi pembawa penyakit rabies, kelelawar vampir juga mempunyai kandungan senyawa kimia di air liurnya (saliva). Senyawa kimia yang ada di saliva kelelawar vampir ternyata bisa memecahkan bekuan darah (blood clot). Senyawa kimia yang dimaksud sebenarnya berupa enzim bernama Desmoteplase (DSPA). Fungsi enzim ini untuk mengencerkan darah korban sewaktu digigit agar bisa mengalir deras hingga mudah diisap. Makanya, binatang yang bisa melihat tajam hingga jarak 130 meter ini bisa terus-menerus mengisap korban tanpa berhenti.

Kalau darah mamalia seperti sapi, kuda, dan lainnya bisa dicegah pembekuannya, maka secara logika saliva tersebut tentu juga bisa berfungsi pada darah manusia. Maksudnya, tentu saliva kelelawar vampir bisa digunakan sebagai obat pencegah pembekuan darah ke otak pada manusia, sebuah proses yang bisa mengakibatkan stroke pada manusia.

Seperti diketahui, otak manusia memerlukan 20 persen dari jumlah darah yang mengalir di dalam tubuh. Bila aliran darah ke otak terhambat dalam beberapa detik saja, sel-sel otak akan rusak atau mati. Dengan demikian, beberapa bagian otak pun jadi ikut rusak. Proses inilah yang disebut stroke.

Stroke sendiri terbagi atas dua jenis, stroke iskemik dan stroke hemoragik. Pada iskemik, satu atau lebih bekuan darah menyumbat pasokan darah ke otak hingga menimbulkan kerusakan otak. Sedangkan, hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah akibat dinding pembuluh yang rapuh atau anomali bawaan (cacat sejak lahir).

Jenis stroke hemoragik ini ternyata juga banyak dialami usia muda seperti kita. Biasanya terjadi selain karena mengidap penyakit turunan (seperti darah tinggi, kencing manis), tapi juga banyak akibat gaya hidup. Misalnya, soal pola makan yang berlebihan (kebanyakan junk food) hingga kegemukan, akibat terlalu banyak merokok. Dengan kata lain, stroke ternyata bukan penyakit untuk orang tua saja. Kita pun bisa kena, kalau tidak cepat menyadarinya.

Memberi harapan

Nah, apa memang benar masalah stroke ini bisa disembuhkan dengan “air liur mujarab” milik kelelawar vampir? Bisa! Paling tidak menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan Journal of The American Heart Association edisi 10 Januari 2003 lalu. Jadi, bila enzim DSPA (nama enzim pengencer darah di saliva vampir tersebut) segera disuntikan ke penderita stroke, maka dengan cepat enzim tersebut akan menghancurkan bekuan darah korban hingga pasokan darah ke otak pun kembali lancar.

Malah di pertemuan The American Stroke Association (asosiasi para ahli stroke Amrik, yang penelitiannya jadi acuan kedokteran bidang stroke di dunia) ke-28 tanggal 13-15 Februari lalu, enzim milik si pengisap darah ini juga sudah direkomendasikan untuk diteliti lebih lanjut kesaktiannya. Untuk dunia kedokteran, rekomendasi ini berarti membuka jalan lebih luas lagi bagi penelitian terhadap DSPA sebagai jalur alternatif pengobatan stroke.

Maka, mulai ramailah berbagai penelitian terhadap “air liur mujarab” ini. Antara lain dilakukan oleh Robert L Medcalf dan tim dari Monash University, Australia. Mereka meneliti efek DSPA yang diuji ke jaringan otak beberapa hewan percobaan. Medclaf menemukan bukti bahwa enzim tersebut bisa segera merusak fibrin (protein sukar larut yang menyusun bekuan darah) hingga aliran darah bisa terus berlangsung. Di sisi lain, ternyata DSPA tidak merusak receptor (sekumpulan sel pada otak). Dengan kata lain, otak tidak sampai kena efek penghancuran atas “fibrin” tersebut. Berarti, penyuntikan enzim DSPA pada penderita stroke bisa tetap dilakukan hingga sembilan jam sejak serangan stroke terjadi.

Bandingkan dengan rt-PA (disebut juga sebagai Thrombolytic Agent), jenis obat yang disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), dan yang selama ini dipercaya sebagai satu-satunya obat pencegah stroke. Cara kerjanya mirip dengan DSPA, yang mencegah pembekuan darah ke otak dengan merusak “fibrin” secara cepat. Tapi karena kecepatannya memburu “fibrin” yang terbentuk di otak, rt-PA dianjurkan harus segera diberikan pada penderita serangan stroke, paling lama tiga jam setelah serangan. Karena kalau ditunda, “fibrin” di otak akan semakin banyak hingga akhirnya serbuan rt-PA malah berisiko akan ikut merusak receptor otak pula.

Beda kan sama kerja DSPA alias saliva kelelawar vampir? Yang justru terbatas hanya merusak “fibrin”, tanpa harus keterusan ke sel atau receptor otak. Itu juga yang membuat isapan kelelawar vampir tidak sampai menewaskan si korban, seperti yang sudah diulas pada awal tulisan ini.

Pencerahan oleh DSPA ini tentu memberikan harapan buat para penderita stroke. Walau sekarang masih diuji coba, tapi sudah memberikan hasil yang menggembirakan. Mudah-mudahan saja bisa segera dilansir sebagai obat mujarab untuk penderita stroke.

Kalau begini sih, kelelawar vampir yang terlihat menyeramkan itu bisa berubah citra menjadi sosok yang baik hati dan penolong.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar