Sabtu, 03 Oktober 2009

TENAGA NUKLIR DAN LINGKUNGAN


TENAGA NUKLIR DAN LINGKUNGAN
Analisis komprehensif mengenai emisi gas rumah kaca dari berbagai pembangkitan listrik, menunjukkan bahwa PLTN merupakan teknologi yang paling kecil melepaskan karbon, mengemisikan 25 g CO2 per kWh dibandingkan dengan bahan bakar fosil yang mengemisikan 250 - 1250 g per kWh dari seluruh daur pembangkitan listrik. Dengan asumsi PLTN yang beroperasi mensubtitusi instalasi pembangit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil, maka PLTN tersebut dapat mereduksi emisi CO2 dari sektor listrik sebesar 17 % dari yang seharusnya 60 %.
Dengan memperhatikan beban lingkungan lainnya, PLTN tidak merelease gas ataupun partikulat oksida asam yang dapat menimbulkan hujan asam, urban smog dan penipisan lapisan ozon. Namun dalam pengoperasian PLTN dan daur-ulang bahan bakar nuklir, sejumlah kecil zat radioaktif terlepaskan ke lingkungan melalui cerobong. Emisi zat radioaktif ke lingkungan tidak boleh melampaui dosis radiasi pembatas (dose Constraint) yang ditetapkan secara internasional yaitu sebesar 0,3 mSv per tahun untuk anggota masyarakat.
Penerimaan dosis radiasi oleh anggota masyarakat dari industri nuklir telah dikaji oleh United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation (UNSCEAR). Berdasarkan laporan tahun 1994, hasil pengkajian menunjukan bahwa dosis efektif kolektif terhadap populasi dunia untuk 50 tahun pengoperasian PLTN, fasilitas daur-ulang bahan bakar nuklir dan penambangan uranium adalah 2 juta orang¬-Sievert (Sv). Sementara penerimaan dosis radiasi alam oleh penduduk dunia mencapai 650 juta orang-Sievert. Penerimaan dosis radiasi dari paparan latar (background) ini 325 kali lebih tinggi dari yang ditimbulkan dari PLTN yang beroperasi di dunia saat ini. Bila diasumsikan tidak ada reduksi emisi radioaktif dari industri nuklir per kWh dan penerimaan dosis oleh anggota masyarakat tidak melampaui dosis yang diterima dari alam, kapasitas listrik yang dapat dibangkitkan dari PLTN lebih dari 750,000 TWh.
Limbah radioaktif padat yang ditimbulkan dari pengoperasian PLTN dan fasilitas olah-ulang bahan baker nuklir mencapai 500 m3 limbah aktivitas rendah dan menengah, serta beberapa puluh m3 limbah aktivitas tinggi, untuk reaktor yang dioperasikan pada 1 siklus bahan bakar per GWe-tahun. Volume limbah yang ditimbulkan ini jauh lebih kecil dari limbah yang ditimbulkan pembangkitan listrik dengan bahan bakar batu-bara untuk kapasitas produksi listrik yang sama. Sementara dalam limbah abu batu-bara terjadi pemekatan radionuklida alam (Naturally Occurring Radioactive Material, NORM), dimana dampak radiologik dari zat radioaktif ini juga perlu diperhitungkan.
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan yang perlu mendapat perhatian bagi para pengambil kebijakan, antara lain adalah,
1.Mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer merupakan prioritas internasional dengan telah ditandatanganinya protokol Kyoto pada tahun 1997. Tiap negara secara sendiri¬-sendiri atau bersama-sama sepakat mereduksi konsentrasi gas rumah kaca sebesar 5,2 % di bawah tingkat emisi tahun 1990.
2.Pengurangan emisi gas rumah kaca dapat dilakukan melalui implementasi teknologi bahan baker yang mengandung karbon rendah, seperti pemanfaatan gas alam, tenaga air, tenaga surya, tenaga angin dan tenaga nuklir.
3.Diversifikasi pembangkitan energi yang disesuaikan dengan kapasitas lingkungan hidup merupakan factor kunci selain stabilisasi suplai listrik juga melestarikan pembangunan yang berkelanjutan.
4.Berdasarkan hasil studi IAEA menunjukan bahwa bahan bakar fosil mempunyai faktor emisi GRK tertinggi, batu-bara mempunyai faktor emisi 2 kali lebih tinggi dari gas alam dan faktor emisi tenaga angin dan biomas berada antara tenaga surya dan tenaga nuklir.
5.Dalam seluruh daur pembangkitan listrik, tenaga nuklir mengemisikan 25 g CO2 per kWh dibandingkan bahan bakar fosil mengemisikan 250 - 1250 g CO2 per kWh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar